Senin, 11 Juli 2011

Guru.

Picture; From Gettyimages.




"Jika murid sudah siap, guru akan muncul dengan sendirinya."




"I learnt silence from the talkative,


Tolerance from the intolerant,


Kindness from the unkind,


And yet strange, I am ungrateful to those teachers."


(Khalil Gibran.)




How can I find a guru?


(Jaggi vasudev)


A guru is not the one who is blessing you, not offer you solace. whoever offer you solace is a pleasant human being, a good person or a saint, but not a guru. A guru is not pleasant, because, it's not his intentions to please you, his intention is to awaken you! Not to put you to sleep.


A guru is somebody who disturbs the fundamental aspects in you.


He disturbs everything in you. He does not allow you to sleep. He is not a solace paddler. He is somebody to assists you to your liberation.


You look for a guru only if you want to awaken yourself. When you are willing to transform yourself. When you want to drop your limitations and go to higher stages in life. If such longing is not yet there, then don't bother about gurus. You'd better entertain yourself, go to a cinema, have a good dinner, have a walk on the beach, those will help.




How do I recognize my guru? You don't have to look for him. You just deepen your longing in you. When you know the pain, when you know the true pain of not knowing, when you know the pain of ignorance, then a guru will emerged. You don't have to look.




Even when I see him, how do I recognize him? You sit with him. Everything in you should feel threatened. You want to run away.But there's something in you which keep pulling you toward him. You don't want to be there, but there's something in you keep drawing you in his direction. That is your guru.


If you don't feel threatened by him, if you feel very comfortable with him, then he is not your guru. Maybe he is your friend. Maybe he is just a good man. But he is not your guru.




Because if you choose, you will choose what you like. Yes, if you may choose, you will only choose what you like. What is it that you like? It is your EGO. Anybody who support your ego is your friend, not your guru.




"Whosoever may torment you,


Harass you,


Confound you, or upset you,


is a teacher,


not because they are wise,


But because you seek to become so."


(Mike dooley)











Minggu, 10 Juli 2011

Pak dan bu Jatim.

Picture; From Gettyimages.




Dekat rumah saya ada sebuah warung nasi kecil yang dimiliki oleh sepasang suami istri yang sudah sepuh. Menurut pengakuan mereka, usia mereka 80 tahunan. Dan mereka telah mengelola warung nasi sejak itu sejak 40 tahun yang lalu. Menurut saya sih, harga harga di warung nasi mereka agak mahal dibanding warung warung lainnya. Tidak heran, karena, jika pemilik warung nasi lain berbelanja sejak subuh ke pasar induk demi harga yang murah, pak dan bu jatim, demikian nama mereka yang saya kenal, berbelanja di tukang tukang sayur yang lewat saja, yang tentu saja lebih mahal dari pasar induk. Mereka melakukan itu, karena sudah sepuh dan tidak punya energi untuk ber lelah lelah ke pasar induk pada subuh hari. Biarpun agak mahal, namun jualan mereka laris dan selalu laku. Saya bayangkan tentunya keuntungan yang mereka peroleh lumayan, mengingat semua hanya mereka kerjakan berdua saja, tanpa pembantu.


Saya pernah menyarankan kepada pak dan bu jatim utnuk mengambil tenaga pembantu, tapi kata mereka, semua sudah biasa dikerjakan sendiri, dari jaman doeloe, semua juga dikerjakan sendiri. padahal sekarang mereka sudah sepuh dan bungkuk. Juga, pernah saya sarankan mereka membeli kulkas, supaya bisa menyimpan bahan makanan dan sisa makanan yang tidak habis terjual, tapi mereka bilang, 'ah, kulkas mah, barang mahal, ndak terbeli bu,....'


Melihat mereka menanak nasi masih menggunakan dandang dan kukusan, saya menyarankan mereka membeli rice cooker untuk mempermudah pekerjaan mereka, tapi pak dan bu jatim bilang, 'ah, bu, rice cooker mah masaknya sedikit sedikit, gak bisa sekaligus banyak,...'


Saya pikir, pak dan bu jatim adalah produk jaman doeloe, yang beranggapan bahwa kulkas dan rice cooker adalah barang mewah,yang hanya bisa dimiliki oleh orang orang kaya, mereka tidak tahu, bahwa sekarang, kulkas dan rice cooker sama seperti hand phone yang bisa dimiliki oleh segala kalangan. Pak dan bu jatim hidup pada jamannya saja, yaitu jaman doeloe, tidak tahu bahwa jaman telah berubah.




Pak dan bu jatim mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Saya sering mengeluh, kenapa sekarang begitu banyak mall, sehingga orang berekreasi hanya dengan melewatkan waktu dengan berbelanja dan berbelanja. Kenapa jalanan begitu macet, kenapa begitu banyak kendaraan, kenapa udara menjadi begitu panas, kenapa pemandangan di puncak penuh dengan perumahan dan spanduk, kenapa sekarang pulang kerja menjadi larut malam dan macam macam kenapa, kenapa dan kenapa. Saya, seperti juga pak dan bu jatim tidak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang memang demikian. Kenyataan yang ada sekarang harus bisa diterima, sayalah yang harus mengubah pandangan saya, bukannya mengeluhkan keadaan sekarang dan merindukan masa lalu. Pak dan bu jatim bagaikan cermin bagi saya, yang masih hidup dimasa lalu, dan susah menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang.

Daripada terus mengeluh, saya harus menerima kenyataan bahwa, inilah sekarang, dan inilah yang terbaik, tanpa harus membandingkan dengan masa lalu.


Rabu, 06 Juli 2011

Barang barang

Picture; From Gettyimages.


Saya beru saja pindah rumah dan membereskan barang barang.

Saya menemukan banyak barang yang saya simpan selama ber tahun tahun tanpa pernah saya buka. Dari kemasan penyimpanan, saya tau, barang barang ini pernah menjadi barang yang sangat saya sukai atau saya anggap sangat berharga bagi saya pada waktu itu.

barang barang itu mungkin tidak berarti bagi orang lain, tapi sangat berarti bagi saya. Barang barang itu bisa berupa foto foto, buku buku, gambar gambar, kliping majalah atau koran, artikel artikel hasil print out, kartu kartu ucapan dari kenalan , hasil hasil 'prakarya' dan kerajinan tangan saya dll dll.


Menemukan barang barang itu, seperti membuka kenangan lama yang hidup bersama barang barang tsb. Peristiwa peristiwa yang berhubungan dengan barang barang tsb berkelebat seperti filem didalam pikiran saya. Ada yang membawa kembali perasaan senang, gembira, bahagia, banyak juga yang mengingatkan sakit hati, kecewa, kesepian, sunyi, dan putus asa.

Herannya, barang barang itu kini menjadi tidak berarti lagi bagi saya.

Barang barang yang pada suatu masa begitu berharga bagi saya, sampai sampai saya menyediakan kotak atau kemasan indah bagi barang barang itu, sekarang menjadi biasa biasa saja.

Saya sendiri heran, kenapa saya sampai memberi tempat istimewa dihati saya bagi kenangan kenangan itu.

Barang barang itu tidak berubah,walau beberapa sudah mulai kusam, tapi sayalah yang berubah, pandangan hidup saya, hati saya yang berubah, membuat barang barang lama beserta kenangannya tidak menimbulkan emosi apapun lagi dihati saya.


Mengetahui bahwa saya tidak lagi terpengaruh emosi yang dibawa kenangan kenangan lama, menggembirakan hati saya sendiri, karena saya tahu, meskipun barang barang itu masih ada disitu, tapi saya sudah bisa membuang 'excess baggage' dari hidup saya.

Sekarang, barang barang itu sudah saya buang semua. Kenangan lama tidak perlu ada pada barang barang, kenangan ada dihati untuk direnungkan, dipelajari pesannya, dan digunakan untuk melangkah lebih lanjut. Selain hati yang ringan dan lapang, keuntungan lainnya adalah, sekarang, lemari lemari dan rak rak buku saya menjadi lowong dan bersih. Ternyata saya tidak perlu menambah lemari dan ruang untuk penyimpanan, saya hanya perlu membuang kelebihan muatan dihati.

Kamis, 16 Juni 2011

Setandan pisang

Picture: From sevillapictures.com


Wan adalah putera ke 3 dari sebuah keluarga tuan tanah cina di tahun 1920an. Orang tua wan memiliki tanah dan kebun yang luas didaerah suradita, tangerang, yang disewakan kepada penduduk setempat. Karena kedua kakaknya sudah menikah dan sibuk dengan tokonya masing masing sehingga tugas wan lah yang untuk memeriksa kebun dan tanah mereka sehari hari, selain juga menarik uang sewa dari para penyewa tanah mereka.

Satu hari, kedua orang tua wan menjodohkan wan dengan seorang perempuan dari keluarga kenalan mereka, karena dianggap sudah waktunya bagi wan untuk berkeluarga. Meskipun terlihat enggan dan ogah ogahan, wan tidak berani membantah keinginan orang tuanya, terutama ibunya yang paling ia hormati.Maka, diadakanlah pesta perkawinan besar besaran selam beberapa hari dengan segala kemeriahannya. Dan sesudahnya, wan dan istri barunya tinggal dirumah yang telah disediakan, disebelah rumah orang tuanya. Ibu wan begitu gembira ketika beberapa bulan sesudahnya, terlihat isteri wan sudah mulai mengandung.


Satu sore, seperti biasa wan pulang dari berkeliling seharian ditanah dan kebun keluarga. Seperti biasa juga, wan membawa sedikit hasil panen atau oleh oleh dari kebun mereka. Hari itu wan membawa setandan pisang, dan memberikannya kepada ibunya. Setelah itu wan pulang kerumahnya. Ketika ibunya hendak memotong setandan pisang itu, tiba tiba ibunya melihat, bahwa sisir pisang yang paling atas, atau yang terbesar dan terbaik, sudah tidak ada. Sudah ada bekas dipotong. Ibunya bertanya tanya dalam hati, kemana sesisir pisang yang terbaik hari itu? Karena biasanya, hasil panen terbaik selalu diberikan kepada orang yang paling dicintai dan dihormati, dalam hal ini, tentu saja, kepada ibunya. Jika sisir pisang terbaik tidak diberikan kepada ibunya, tentulah diberikan kepada orang yang lebih dicintai dan lebih dihormati dari ibunya sendiri. Tapi, siapa orang itu? Karena hatinya terus diliputi rasa ingin tahu, ibunya wan mulai menyelidiki dari berbagai sumber.

Akhirnya setelah beberapa lama, diketahuilah, bahwa, sudah lama wan menjalin kasih dengan puteri salah seorang penyewa tanah mereka. Bahkan diketahui juga bahwa wan sudah punya seorang anak dari hubungan tersebut. Wan tidak berani memberi tahu dan memperkenalkan kekasih dan anaknya kepada ibunya karena tahu, pasti ditolak, karena status keluarga yang tidak seimbang.

Sesisir pisang terbaik itu, rupanya diberikan wan kepada kekasih dan anaknya.


Beberapa waktu setelah melahirkan, istri resmi wan minta cerai, dan wan leluasa untuk menjadikan kekasih dan anaknya sebagai keluarganya yang sah. Mereka punya 7 anak lainnya, dan hidup bahagia sampai tua.













Rabu, 01 Juni 2011

Niang tak mau berhenti.

Picture; From Reygallery.


Niang adalah panggilanku pada ibuku.

Niang selalu berbicara dengan dirinya sendiri dengan suara keras, tidak memberikan tempat bagi suara lain masuk dalam hidupnya.

Memang niang selalu rajin kegereja, tiap jumat, sabtu dan minggu, niang tidak pernah absen mengikuti berbagai ritual Niang juga rajin pergi keberbagai tempat ziarah terkenal, tapi hal itu tidak meyurutkannya untuk menyuarakan suaranya sendiri, tidak peduli kata para pemuka gereja, tidak peduli apa kata para pembimbing, niang selalu punya pendapatnya sendiri, dan tidak ragu untuk mengutarakannya.

Selain tidak berhenti menyuarakan pendapatnya, niang juga tidak berhenti berjalan mengikuti kakinya yang membawanya kesegala pelosok.

Setiap hari dalam seluruh hidupnya niang tidak pernah berhenti melangkahkan kakinya.

Dengan naik kendaraan umum, setiap hari niang berjalan dari satu pasar ke pasar lain, dari satu tempat keramaian ke tempat keramaian lain, dari satu negara ke negara lain.

Bisa dikata, seumur hidupnya niang sudah menjelajah kesegala kota besar diseluruh dunia. Niang hanya berjalan jalan, tanpa belanja, tanpa berhenti,tanpa mengamati, hanya berjalan mengikuti kata hatinya untuk berjalan dan bersuara mengutarakan pendapatnya sendiri, tanpa perlu mendengar jawab atau atau menunggu tanggapan yang mendengar.

Niang melewati ribuan etalase pertokoan tanpa harus masuk, melewati ribuan restoran tanpa pernah tergoda untuk singgah, bagi niang cukup sebotol minuman yang selalu dibawanya, dan setangkup roti atau kue menemani perjalanannya.

Tanpa memperhatikan makanan dan penampilannya, tidak heran niang sering disangka tunawisama dan sering mengundang belas kasihan orang yang melihatnya. Mereka menawarkan makanan, minuman, tumpangan bahkan tempat berteduh. Niang menampik sinis semua tawaran baik orang dan melanjutkan langkah kakinya.

Kadang niang bersepeda juga. Laju sepedanya meliuk liuk menyeramkan bagi yang melihatnya, tapi tidak bagi niang sendiri, niang terus saja melaju, membuat semua orang menahan nafas melihatnya.

Menyebrang jalan adalah salah satu kegembiraan lain bagi niang.

Niang tidak pernah lewat jembatan penyebrangan, niang menundukkan kepalanya, dengan mata setengah terpejam, niang melangkah menyebrang jalan selebar apapun, seramai apapun, dimanapun.

Banyak mobil mendadak mengerem sampai mencicit, orang berteriak menahan nafas, tapi niang selalu selamat sampai keseberang, dan tersenyum senang, seperti telah memenangkan suatu pertandingan.

Seumur hidupnya niang tidak pernah diserempet apalagi ditabrak karena cara menyebrangnya yang nekad itu.

Paling paling lecet kecil kecil karena jatuh ketika lompat dari bis yang berlari kencang, atau lututnya luka karena terperosok kedalam lubang jalan, ya,.. cuma luka luka kecil yang cepat sembuhnya.

Setelah berjalan tanpa henti, tanpa lelah, tanpa tujuan, tanpa pernah sakit, tanpa pernah lelah, satu waktu diusianya yang ke 87 tahun, kaki niang tiba tiba tidak mau diajak melangkah lagi.

Niang ribut bukan kepalang, berteriak teriak menyuruh kakinya melangkah mengikuti kemauan hatinya, tapi kedua kakinya diam saja.

Niang terpaksa mau duduk dikursi roda. Tapi, dikursi rodapun niang tidak bisa diam, minta didorong jalan jalan, atau bergeser kian kemari.

Sejak kakinya mogok tidak mau diajak jalan, siang ataupun malam niang tidak pernah lagi tidur barang sekejappun. Kalau siang niang minta jalan jalan, maka malam hari niang mengamuk. Menggeser geser perabotan, bahkan lemari. Dokter yang datangpun heran, obat penenangnya tidak bereaksi sama sekali, niang tetap tidak mau diam dan terus berteriak teriak. Bahkan beberapa kali niang terjatuh karena tidak mau diam, herannya, meskipun luka, niang seakan tidak merasa,...'tidak sakit' katanya, padahal luka dikepalanya cukup parah bagi orang seusianya.

Dokter bilang, mungkin ada 'sesuatu' yang harus niang lepaskan.

Maka didatangkanlah beberapa kali orang orang 'pintar'.

Biarpun mereka tidak saling kenal satu sama lain, dan datang berlainan waktu, mereka semua bilang hal yang sama, niang sakti!

Niang punya pegangan, pelindung, susuk, yang hebat nan sakti!

Tentu saja aku terkejut bukan alang kepalang mendengar hal ini, antara percaya dan tidak . Tapi setiap kali satu ritual diadakan, ada yang hilang dari diri niang. Pertama kali diadakan pengusiran, tiba tiba saja niang tidak bisa lagi duduk, dan tidur saja diranjang.

Tidur saja diranjang tidak membuat niang berhenti bersuara, bahkan semakin keras dan ngawur, ngaco. Orang kedua yang mengadakan pengusiran, membawa daun kelor yang ketika diminumkan, tiba tiba saja niang bersuara pelo, seperti anak kecil baru belajar bicara.

Tapi, pelo ataupun tidak, tidak menyurutkan niang untuk tetap bersuara dan membelalakan matanya kian kemari.

Pengusiran berlanjut beberapa kali, seperti membuka lapis demi lapis kesaktian niang. Ada yang berupa asap , ada yang berupa logam kuning, ada yang seperti bayangan hitam. Aku makin terheran heran dengan kenyataan ini, suatu hal yang sama sekali bahkan terpikirpun tidak.

Setelah dua minggu tidur saja, tiba tiba niang menghembuskan tiga nafas panjang terakhirnya, dan berhenti bernafas. Orang orang ramai menangis dan membaca doa, tapi dokter yang memeriksa bilang, meskipun sudah tidak bernafas, tidak ada denyut nadi, jantung niang masih berdetak! Kami semua menunggu. Dan menunggu. Meskipun badannya sudah dingin, tapi tidak kaku kaku, meskipun bola matanya tidak bereaksi lagi terhadap cahaya, tapi tidak pudar pudar. Niang tidak mati mati. Dokter bingung, apalagi kami.

Tiga hari kami menunggu kapan jantung niang mau berhenti berdetak, dan pada hari ketiga, jantung niang benar benar berhenti. Dokter menyatakan bahwa niang sudah mati.

Ketika kami kremasi, salah satu orang pintar yang pernah datang, menelpon kami, katanya, masih ada logam berenergi yang ketinggalan dikepala niang, coba di cek di abu pembakarannya.Tapi aku tidak mau mencek kebenarannya, biarlah itu menjadi misteri yang dibawa niang sendiri, tanpa aku, kami semua pernah mengerti,kapan, kenapa, dan buat apa, niang memasang semua penangkal itu dalam dirinya.

May her soul rest in peace.

(Niang, 1924-2011)












































Selasa, 12 April 2011

Kesepian.

Picture; From Gettyimages.

*

*

Banyak orang kesepian.

Kesepian dalam arti merasa sendiri,

merasa tidak ada perhatian dari orang lain,

merasa tidak nyaman ketika harus sendirian,

tidak tau harus berbuat apa ketika sendirian.


Bahkan dikota kota besar yang hiruk pikuk pun

banyak orang yang kesepian.

Banyak orang mengira, obat bagi kesepian

adalah mencari teman sebanyak banyaknya,

berusaha terus berada dalam suasana yang ramai,

bekerja keras, supaya tidak memikirkan kesepiannya,

atau ke pesta yang meriah,...

tapi, begitu pulang, sendirian,

kembali merasa sepi.

Padahal obat paling baik bagi kesepian, adalah

menjadikan diri sendiri sebagai teman sejati.

Bisa merasa nyaman dengan kesendirian,

dan tidak merasa kesepian saat sendiri.

Bahkan tanpa televisi atau radio pun merasa nyaman.

Meditasi kesadaran, bernafas dengan sadar,

berjalan dengan sadar, melakukan segala sesuatu

dengan kesadaran tinggi, adalah latihan

merasakan nyamannya berteman dengan

diri sendiri.

dengan hening dan sepi.

dengan keadaan sekitar kita.

Hidup dengan kesadaran tinggi adalah memperhatikan

setiap nafas masuk dan nafas keluar.

Memperhatikan setiap langkah kaki,

memperhatikan setiap textur barang disekitar kita,

memperhatikan alam,

memperhatikan yang tidak pernah kita perhatikan sebelumnya,

yang selalu terlewatkan ketika kita tergesa.

Jika hati selalu hangat,

banyak bersyukur,

dan penuh kesadaran,

tidak ada manusia yang kesepian.

.

Senin, 11 April 2011

Ujian kehidupan.

Picture; From Gettyimages.

*

*

Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami ujian kehidupan.

Semua orang pasti mengalaminya.

Ujian kehidupan datang dalam bentuk yang berbeda

untuk setiap tahap kehidupan.

Bagi anak anak, mungkin ujiannya adalah setiap kali menangis.

Makin besar, makin jarang menangis, tapi merasa sakit dihati.

Ujian kehidupan seperti juga ujian sekolah, adalah untuk

meningkatkan kebijakan diri, naik kelas kebijakan.

Makin tinggi tingkatan atau kelasnya, tentu saja

makin susah ujiannya,

Latihannya adalah persoalan sehari hari,

ujiannya datang sekali sekali.

Melihat orang lain sedang diuji, mudah bagi kita

mengucapkan, 'sabar ya,..' 'ikhlas ya...'

betapapun kita bersimpati pada yang sedang diuji,

kita tidak pernah bisa menyelami perasaannya,

karena tiap orang punya ketahanan, kepribadian

yang berbeda beda.

Misalnya, melihat ada yang menangis kehilangan barang,

kita bilang, 'gitu aja kok nangis....'

Tapi mungkin tingkatannya memang baru sampai

pada menangisi barang yang hilang, atau barang

yang hilang itu memang sangat berarti baginya.

Kita bisa bersimpati, tapi kita tidak pernah

bisa tau perasaan orang lain sesungguhnya.

kita mengukur perasaan orang lain dengan ukuran

sepatu kita sendiri, padahal ukuran kaki tiap orang berbeda.

Ada teman yang bilang, 'saya tau ini ujian, tapi koq beraaat

sekali rasanya, sakiiitt sekali dihati,...'

Yang namanya ujian itu, pastilah menyakiti perasaan,

membutuhkan banyak sekali pengorbanan.

kalau tidak, namanya bukan ujian,

cuma latihan.

Lalu, kalau lulus ujian, apa yang didapat?

Tergantung ujiannya.

Ada yang dapat kesabaran.

ada yang mendapat 'bisa menerima' dan ihklas.

ada yang dapat keberanian, dan tidak takut lagi.

ada yang bisa melepaskan, atau 'letting go'.

Yang pasti, mendapatkan kekuatan.

Dalam ujian juga, kita bisa membedakan mana

teman sejati, mana yang tidak.

Mana yang mau menampung curahan hati dan air mata,

mana yang malah meninggalkan pergi karena

kita kehabisan harta.

Ujian makin berat, jika perhatian kita cuma fokus

pada kepedihan ujiannya saja.

Ujian bisa ringan, jika kita alihkan fokus pada

yang lebih tinggi, Yang Maha Segalanya.

Tidak heran para bijak berkata, bahwa saat saat

ujianlah, saat2 pedih dalam kehidupan kita,

adalah saat2 yang paling mendekatkan kita

pada Yang Maha.

.