Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Menjadi diri sendiri.

Picture from; Gettyimages.

'Kebanyakan orang berusaha menjadi orang lain' Kata chen satu sore, ketika kami duduk duduk dikedai teh ditepi jalan. 'Belajar dari orang lain itu baik, tapi jangan berusaha menjadi orang lain selain menjadi dirimu sendiri, karena tiap orang mempunyai kelebihannya sendiri , unik, dan cuma satu satunya diseluruh dunia, makanya, wajah tiap orang tidak ada yang sama.' Kata chen senyum menghirup tehnya.

'Tidak mudah mempertahankan menjadi diri sendiri ditengah bujukan informasiyang begitu bertubi tubi, ada ada saja yang ditawarkan untuk menjadi lebih, entah lebih cantik, lebih modis, lebih wangi, dan sebagainya, dan semua ditawarkan dengan kemasan kebahagiaan, seakan akan orang akan menjadi lebih bahagia bila menjadi orang lain,....... padahal lebih berbahagia menjadi diri sendiri,... tidak usah berpura pura, tidak usah banyak berusaha,...hidup akan lebih bisa dinikmati jika menjadi diri sendiri'.

"Tapi, bukankah selayaknya kita memperbaiki penampilan?" tanyaku pada chen yang asyik memperhatikan orang lalu lalang didepannya.
'Memberbaiki ya, ...' Kata chen mengangguk, 'Tapi tidak menjadi,...memperbaiki itu bukannya mengubah,... makanya aku heran pada orang orang yang rela menjalani berbagai macam operasi supaya kelihatan muda ,...bukankah aneh, orang berusia 60 tahun tapi nampak seperti 30 tahun,.... menurutku bukannya hebat, tapi aneh,... ya benar benar aneh,....' Kata chen menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan lagi, seraya menunjuk dirinya sendiri,....'Seperti aku ini, lihat, kerut kerut dimukaku, putih dirambutku,... ini tidak bakal kuubah,.. karena tiap kerut, tiap garis diwajahku adalah tanda perjuanganku,... tanda lelah dan penat bahwa aku telah berjuang untuk keluargaku, tanda khawatir banyak memikirkan anakku, tanda bahwa aku bekerja keras karena cinta keluargaku,... tanda tanda yang terbentuk bersama usiaku ini, tidak akan kuhapuskan, karena itu adalah tanda bahwa aku bisa mengasihi, mencintai, dan mengerti, itu adalah tanda bahwa aku telah belajar dari kehidupan yang diberikan kepadaku'. chen menatapku tegas dari balik kaca matanya, ' aku selalu akan menjadi diriku sendiri'. Kata chen sambil menghirup tehnya lagi.


Senin, 05 September 2011

Melangkah maju.

Picture from; Chinesepainting.com.


Ada yang tidak ingin kita pelajari, tapi tetap harus kita ketahui,

ada yang tidak kita inginkan, tapi harus kita jalankan,

ada yang tidak ingin kita tinggalkan, tapi kita harus mengucapkan kata perpisahan,

Banyak yang tidak kita sukai tapi tetap harus kita lalui.

Hidup bukanlah yang kita inginkan, tetapi apa yang bisa kita dapatkan, bisa menyenangkan, bisa juga susah, tapi itulah kehidupan, apapun yang kita dapatkan, suka tidak suka, harus kita jalani, jalan akan terasa berat jika kita terus mengeluh dan menyalahkan, akan terasa panjang jika kita tidak bisa menerima keadaan, tetapi akan terasa ringan apabila hati senang,. Senang atau susah, adalah pilihan kita sendiri, mengeluh atau bersyukur juga pilihan kita sendiri.

Selama tujuan kita adalah keberhasilan, sukses, dan kesempurnaan, kita tidak akan pernah bisa berdamai dan bersahabat dengan diri kita sendiri. Selama kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, kita tidak bisa bersahabat dengan kehidupan ataupun apapun yang ada didalam kehidupan .

Jumat, 02 September 2011

Mudik.

Picture from; Gettyimages.


'Tahun ini aku mau mudik' Kata umi sambil repot memasak untuk merayakan lebaran. 'Biarpun dikampung sudah tidak ada lagi sanak saudara untuk dikunjungi, aku mau mudik' Lanjut umi sambil tersenyum meskipun penuh peluh kepanasan. 'Aku mau menguji diriku sendiri, sabarkah aku mengikuti ritual mudik? Sabarkah aku mengantre ber jam jam ditengah kemacetan jalan? apakah aku marah dan mengumpat jika ada yang menyerobot dan memotong jalan? apakah aku bisa tetap sabar ditengah rasa lelah, lapar dan haus?apakah aku memaafkan keadaan? aku kepingin merasakan senang susahnya berjuta juta saudara kita yang bersusah payah mudik, mereka punya tujuan dikampung untuk ditemui, aku hanya mau menemui diriku sendiri saja' Umi tersenyum lagi sambil meluruskan punggungnya sejenak.

'Aku mau tau, apakah aku bisa mendahulukan orang lain ditengah kesempitan, apakah aku bisa tetap merasa damai ditengah kepenatan, semua yang telah kupelajari, semua yang telah kujalani semasa puasa, apakah mengubah diriku, meskipun hanya sedikit saja, apakah aku menjadi lebih baik ? aku tidak pernah akan tahu, apabila aku tidak menempatkan diriku didalam kesempitan,... kalau aku tetap berada dirumah yang nyaman disini, aku tidak akan pernah tahu kelemahan kelemahan ku, aku tidak bisa memeperbaiki diri' Kata umi lagi dengan serius. 'Semua kesulitan dan kesempitan akan memberikanku kesempatan untuk memperbaiki diri, menyucikan hati'

'Bukankah aku beribadah dan berpuasa untuk menyucikan hati? melapangkan hati? Aku mencoba menempatkan diriku diantara pilihan pilihan yang sulit, pada saat sulit, aku bisa melihat, apakah aku sudah bisa mendahulukan orang lain daripada diriku sendiri? apakah aku bisa merendahkan hati dihadapan orang lain? apakah aku tidak menghakimi dan berpikir negatif terhadap kelakuan orang yang tidak berkenan kepadaku? Jika aku bisa melakukan semua itu, barulah aku bisa merasa bahwa ibadah dan puasaku benar dan ada hasilnya, apabila tidak, berarti aku akan banyak pekerjaan batin diwaktu waktu berikutnya'.
'Memang tidak ada sanak saudara yang bisa kutemui dikampung, tapi aku masih bisa menjumpai kampungku, bukankah satu waktu nanti kita semua akan mudik juga kerumah Illahi? Yang membedakan cuma waktu dan bekalnya saja. Itulah mudik besar setiap orang. Mudik mudik kecil inilah yang aku lakukan sekarang'.

'Meskipun kudengar kampungku sudah banyak berubah, tidak ada lagi rumah rumah dan pohon pohon, seperti dulu lagi, juga kudengar bahwa sekarang rumah rumah sudah menjadi toko dan pabrik, tetap saja menyenangkan untuk melihat kampung, tempat kita darimana berasal dan tumbuh besar. meskipun tidak sama seperti dalam ingatan, tetapi berkunjung kesana membuat kita mengingat kembali segala kebaikan'.

'Aku membawa oleh oleh bukan berupa kue atau barang barang, aku membawa hati yang lapang, yang bisa menerima segala kekurangan akibat perubahan, oleh oleh yang akan kuberikan ketika aku berhasil menemui diriku sendiri'. Umi tersenyum sambil menutup rantang dan menyuruhku pulang membawa hasil masakannya. Dengan riang umi bilang, ia akan cepat berkemas, supaya besok, menjelang fajar, ia sudah bisa berada dalam kendaraan yang membawanya pulang. Menemui dirinya sendiri. Dikampungnya.

Selamat Idul Fitri umi, mohon maaf lahir dan bathin.

Jumat, 26 Agustus 2011

Pohon pohon.

Picture from network.com.


Setiap pagi, ketika berjalan jalan, saya selalu terpesona melihat pohon pohon besar yang sudah tumbuh sekitar 50 tahun . Ada masa masa dimana pohon pohon itu ditebangi, karena warga takut pohon pohon itu roboh kena angin kencang, karena pohon pohon itu sudah tua, tetapi yang menakjubkan, pohon pohon itu selalu tumbuh dan bersemi kembali, besar kembali seperti semula, bahkan lebih rimbun dari sebelumnya. Dibawah keteduhan pohon pohon itulah para pejalan kaki melepaskan penatnya barang sejenak setiap hari. Keteduhan pohon pohon itu adalah hiburan bagi mereka.

Pohon pohon itu juga adalah tempat tinggal bagi ratusn burung burung yang berkicau setiap subuh hari, memberi salam kepada hari yang akan lewat, ratusan burung burung itu memberi kebahagiaan bagi semua warga penghuni.

Hidup selayaknya tumbuh seperti pohon pohon itu. Menyerap energi matahari untuk bertumbuh, tidak takut akan hujan badai, berhembus kemana angin meniupnya,berkawan dengan awan yang lewat, ceria ketika pagi datang, tenang ketika malam menyapa.

Hidup selayaknya tegar seperti pohon pohon itu, teguh kerakar kedalam, bergembira maupun mengeluh dalam diam, tetap tumbuh pelan pelan,menyambut gembira setiap musim yang datang, musim semi, musim panas, musim hujan, maupun musim rontok.

Hidup selayaknya ramah seperti pohon pohon itu, memberikan keteduhan bagi siapa saja yang lewat, menjadi kediaman bagi burung burung dan ratusan serangga kecil.

Hidup selayaknya hening seperti pohon pohon itu, tanpa bersuara terus tumbuh keatas maupun kedalam, membiarkan ribuan daun daun bersuara gemerisik ditiup angin, membiarkan bunyi serangga dan burung berkicauan, dan dahan berderit derit gembira diayun angin.

Hidup selayaknya meniru pohon pohon itu, karena kita tinggal dan tumbuh ditanah yang sama, kenapa kita banyak mencela, sedangkan pohon pohon itu terus bersyukur dan selalu ceria?

Selasa, 23 Agustus 2011

Arogan.

Picture from NYartist gallery.


'Anggap saja arogan adalah penyakit' kata umi suatu ketika, 'penyakit yang menyakitkan bagi orang orang sekelilingnya' kata umi lagi, ketika aku mengeluhkan seorang kenalan yang selalu merasa benar, meskipun kelakuannya jauh dari pantas, selalu terlambat, selalu senang membuat orang lain menunggunya,selalu mencari kesalahan orang , begitu aku mengeluh kepada umi.

'Arogan itu selalu menganggap dirinya yang paling benar,selalu ingin dihormati, dipuji, diperhatikan,menganggap orang lain selalu satu tingkat dibawahnya, entah tidak sebaik dirinya, tidak sepandai dirinya, tidak sekaya dirinya, pokoknya dalam pandangannya, dialah yang terbaik, makanya, biasanya orang yang arogan selalu tak pernah tepat waktu, ia senang membiarkan orang lain menunggu, ia menganggap orang lain pantas menunggunya, meskipun demikian,.....orang yang arogan pantas dikasihani, karena sebenarnya itu semua adalah topeng yang ia pakai untuk menutupi dirinya yang rapuh, sebenarnya ia penuh dengan macam macam ketakutan,makanya ia menutup diri, memasang tembok tinggi antara dirinya dengan orang lain, agar orang lain tidak dapat memasuki kehidupannya , tapi dengan demikian, ia juga tidak dapat keluar, ia tetap didalam dengan pemikirannya sendiri. Meskipun ia bercerita tentang banyak teman temannya, tentang prestasinya dan kemenangannya, tapi sebenarnya, ia sangat kesepian, sendirian,... kasihan bukan? Umi setengah bertanya setengah menjawabku. '

'Kamu tidak bisa berbuat apa apa baginya,lebih baik menjaga jarak dengannya bila kamu tidak mau lebih banyak disakiti,... kita cuma bisa berharap, satu saat ia akan melihat, betapa ia menyakiti banyak orang, betapa ia pucat dan rapuh tanpa topeng, betapa tembok tinggi yang ia bangun untuk melindungi dirinya, sebenarnya memisahkan dia dari kehidupan nyata,.... betapa sebenarnya ia cuma hidup dalam mimpi mimpinya yang ia percayai sebagai kenyataan,...kita berharap, ketika saat itu datang, ia akan menyadari bahwa tidak ada ilusi bahwa ia lebih tinggi, lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya dan macam macam kelebihan.... kita semua sama,... apa yang kita punya semua cuma pinjaman sementara, cuma titipan,....' Umi tersenyum mengakhiri kata katanya, dan menyuruhku pulang.

Selasa, 16 Agustus 2011

Keseimbangan.

Picture from; Gettyimages.


Hidup adalah tentang keseimbangan. Tapi, keseimbangan buat tiap orang itu berbeda beda. Tidak ada yang sama. Juga, keseimbangan itu berbeda dari waktu ke waktu. Misalnya, pada waktu muda, boleh boleh saja kita punya jadwal hidup padat, dari pagi, kerja, sore, olahraga, dilanjutkan dengan pesta, pulang menjelang pagi, dilanjutkan dengan kerja lagi. Tapi semakin beranjak tua, keseimbangan otomatis berubah, jadwal padat seperti pada waktu masih muda, harus diimbangi dengan istirahat, kalau tidak, bisa sakit.

Sakit, adalah cara badan menyeimbangkan dirinya sendiri. Selain sakit badan, banyak juga orang yang sakit pada badan yang tidak kelihatan. Kecewa, emosi tinggi, marah marah, stress, depresi, ketakutan, benci, dendam,sakit pada pikiran, pada ingatan, adalah beberapa diantaranya.Semua adalah masalah keseimbangan.

Setiap kegiatan selayaknya diimbangi dengan istirahat. Bahkan berpikirpun harus ada waktu istirahatnya. Stress adalah tanda bahwa pikiran minta istirahat untuk menyeimbangkan pikiran.

Untuk menjadi utuh, kita perlu tahu kedua kutub keseimbangan. Untuk itulah kita merasa kecewa, supaya kita tahu bersyukur, kita perlu kalah supaya bisa mensyukuri kemenangan, perlu sakit supaya menghargai kesehatan,perlu kejahatan, supaya bisa menghargai kebaikan,perlu ribut, supaya bisa menghargai ketenangan,perlu gelap, supaya bisa menghargai terang, perlu hujan, supaya bisa mensyukuri panas, dll dll. semua hal yang terjadi pada hidup kita memang kita perlukan untuk keseimbangan diri kita sendiri.Semua diberikan Semesta supaya kita mengerti kedua kutub kehidupan, dan menjadikan kita manusia yang utuh dan seimbang.

Masalahnya, kita ingin semua baik, tanpa ada yang jahat, ingin semua sehat, tanpa ada sakit, ingin semua sukses tanpa ada yang gagal, padahal semua diperlukan untuk menjaga keseimbangan. Kita ingin jalan pintas, cepat cepat menghilangkan apa apa yang kita tidak suka, padahal, itulah yang sebenarnya kita perlukan. Dalam bahasa Khalil Gibran, semua yang kita tidak sukai, itulah guru sejati kita. Dari situlah kita belajar menjadi seimbang. Menjadi utuh.



Sabtu, 23 Juli 2011

Minta.

Picture; From Gettyimages.


Umi bilang, "Teman teman banyak yang menyuruh saya berdoa untuk minta. Minta apapun kepada Yang Maha .Apa yang kita inginkan dalam hidup, kita harus minta, nanti, pasti dikabulkan. Kalau tidak hari ini besok besok pasti dikabulkan. Teman teman ada yang minta jabatan, rejeki, anak, cucu, pekerjaan baru, kesembuhan dari penyakit,...kata mereka sih, semua dikabulkan. kata mereka, kalau tidak minta namanya kita sombong, tidak mau merendahkan diri kepada Yang Maha, lha wong kita disuruh minta, disuruh mengetuk pintuNYA, masakan kita tidak mau minta? Tidak mau mengetuk pintuNYA? "

Umi terpekur sebentar, menunduk, lalu melanjutkan; " Kadang, dalam hati umi ada terbersit juga perasaan iri, melihat teman teman mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi, umi lebih memilih untuk ikut bahagia dengan mereka...dan menahan diri untuk tidak meminta." "Bukannya umi sombong, tidak mau minta minta kepada Yang Maha, tapi kok, umi merasa malu,...malu, masak Yang Maha sudah begitu banyak memberi kepada umi , masak umi tidak merasa puas dengan apa yang sudah diberikan? apa yang ada? umi sih, berusaha berdamai dengan keadaan yang sudah diadakan oleh Yang Maha,... kalau tidak cukup, ya umi yang berusaha mencukup cukupi, mengurangi keinginan umi sendiri,...berusaha tidak banyak keinginan,....."

"Kalau ada hal yang tidak cocok dengan keinginan umi, ya umi berusaha menjadikan hal yang tidak umi sukai itu sebagai ujian untuk mengurangi ego umi, merendahkan hati, dan lebih mendekatkan diri kepadaNYA."

"kadang kadang kalau sakit sudah tidak tertahankan, ya umi minta juga,...minta sembuh atau minta kekuatan,...umi juga minta berkat dan minta ampun setiap hari sih,.... tapi, umi risih, malu, kalau sebentar sebentar minta ini dan itu,... rasanya seperti umi tidak tahu terima kasih .....tapi sih, itu tergantung orang nya,.... menurut umi pribadi sih, minta juga baik,... tidak minta juga baik,..." Umi tersenyum.

"Buat umi pribadi, mengetuk pintuNYA adalah mengetuk pintu CintaNYA, meminta kepadaNYA adalah meminta ampunanNYA, minta berkatNYA, bukan urusan urusan materi dan duniawi,..." Umi tersenyum menutup pembicaraan lalu pergi berlalu.

Selasa, 28 Desember 2010

Life is not what we want,

picture from chinese paintings
*
*
*Life is not what we want,
But what we have.*
*
Hidup ini bukan yang kita mau-i,
Tetapi apa yang kita miliki.
Banyak ketidak bahagiaan karena kita mau hidup ini seperti kehendak kita,
padahal, seharusnya kitalah yang mengikuti kemauan hidup ini.
Ketika kita bisa mensyukuri yang kita miliki, barulah kita bisa bahagia.

Sama Saja.

picture from chinese paintings
*
*
Sama saja.
*
Cerita yang paling saya sukai adalah cerita tentang kuda.
Seseorang didesa mempunyai kuda yang sangat bagus.
Semua teman, tetangga, datang memuji betapa bagus kuda itu.
Tapi orang itu tenang2 saja menaggapinya, 'bukan apa2,' katanya merendah.
Satu waktu datang kawanan perampok yg mengambil kuda itu.
Semua orang didesa datang menyatakan simpatinya karena ia
harus kehilangan kuda yg sangat bagus itu.
Tapi, ia tenang2 saja, 'bukan apa2' katanya.
Beberapa minggu lewat, tiba2 kuda itu datang kembali sendirian, dipunggung
kuda itu ada banyak emas berlian, yang rupanya milik para perampok.
Semua orang kembali datang memberi selamat, karena kudanya telah
kembali, ditambah lagi, membawa banyak emas berlian.
Tapi, ia tenang2 saja, 'bukan apa2' katanya.
Satu hari, anak laki2nya yg tengah belajar menunggang kuda tsb, terjatuh,
dan kakinya patah, sehingga menjadi pincang.
Para tetangga kembali datang dan menyatakan simpati mereka atas musibah tsb.
Tapi ia tenang2 saja, 'bukan apa2' katanya.
Banyak yang heran dan tidak mengerti , bagaimana bisa, musibah seperti itu,
dibilang, 'bukan apa2'.
Setelah lewat beberapa musim, pemerintah mewajibkan semua anak laki2 dinegara itu
pergi berperang. Anak itu terbebas dari kewajiban tsb, karena kakinya yg cacat.
Banyak anak yang tidak kembali, karena gugur dimedan perang,
Tapi anak itu tetap bisa menemani ayahnya sampai tua menjelang.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa ada kebaikan disetiap ketidak beruntungan.
*
* Kemalangan dan keberuntungan, sama saja.*

Senin, 27 Desember 2010

Excerpt from 'The Guest House'

Picture from my paintings.

*

Seperti kata Rumi, hidup adalah serupa wisma tamu.

Setiap hari ada saja tamu (baca; emosi) yang datang.

Kebahagiaan, kesenangan, kesedihan, terluka, dll.

Kita terima semuanya dengan hati lapang,

Karena semua yang datang di pintu kita, membawa pesan bagi kita untuk mempelajari-

sesuatu, kesabaran, kebijakan, menerima, ikhlas, dll.

Belajar dari tiap tamu, belajar dari tiap kejadian, kita belajar tentang diri sendiri.